AKSELERASI CITARUM HARUM BERKELANJUTAN

AKSELERASI CITARUM HARUM BERKELANJUTAN*)

Oleh : M. Sholeh**)

Sejak jaman nenek moyang diakui bahwa peradaban kehidupan dimulai di sekitar aliran sungai. Bangsa Mesir kuno jaya dengan peradaban sungai Nil-nya, bangsa Inggris jaya dengan sungai Thames-nya, bangsa Cina maju peradabannya karena sungai Kuning-nya, bangsa Babilonia di Mesopotamia (sekarang Iraq) juga jaya peradabannya karena terletak diantara 2 sungai Efrat dan Tigris.  Bahkan konon manusia Purba di Jawa Pithecanthropus Erectus memulai kemajuan peradaban di sepanjang sungai Bengawan Solo di Jawa Tengah.  Sejarah telah memberikan pelajaran kepada kita semua akan kearifan lokal peradaban menghargai sungai sebagai pangkal peradaban kehidupan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.  Bangsa yang berbudaya tinggi adalah bangsa yang menghargai sungai sebagai awal peradaban kehidupan menuju kemajuan dan kemakmuran.

Demikian juga dengan sungai-sungai di Pulai Jawa, Sungai Bengawan Solo di Jawa Tengah, Sungai Brantas di Jawa Timur dan Sungai Citarum di Jawa Barat dan sungai-sungai lainnya adalah pangkal kehidupan sendi kehidupan dan kemakmuran di Tanah Jawa.  Misalnya contoh sungai Citarum sebagai sungai terpanjang di Jawa Barat mengalir sepanjang 297 kilometer dari Kabupaten Bandung hingga ke Kabupaten Bekasi dan Jakarta meliputi 12 kabupaten/kota di Jawa Barat dan DKI Jakarta.  Tak kurang dari 18 juta penduduk di sekitar aliran sungai Citarum ini dipengaruhi oleh peradaban sungai Citarum.

Satu Sisi Sungai Citarum

Gambar 1. Satu Sisi Sungai Citarum Harum

Tak dipungkiri lagi sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Citarum sudah lama dikenal sebagai darha lumbung padi Jawa Barat bahkan di tingkat nasional, sebut saja daerah Cianjur, Indramayu, Subang, Karawang, Purwakarta hingga Bekasi adalah sumber pangan nasional selama bertahun-tahun melalui irigasi teknis, semi teknis maupun tadah hujan.  Demikian juga dengan peternakan Sapi dan unggas di Pengalengan, perikanan air tawar di tiga waduk utama yaitu Waduk Saguling Cirata dan Jatiluhur telah berkembang pesat seiring perkembangan budidaya dan teknologi.  Tak kalah pentingnya tiga waduk tersebut juga menghasilkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) lebih dari 1.800 Megawatt yang dapat memenuhi kebutuhan 50% dari penduduk di Pulau Jawa dan Bali.  Pendek kata potensi Citarum adalah sangat strategis baik dari segi ekonomi, sosial, budaya maupun lingkungannya.  Saking strategisnya sungai Citarum dapat disebut juga sebagai urat nadinya Jawa Barat bahkan penyangga energi nasional.

Sungai Paling Tercemar

Namun bak petir di siang bolong, hingga akhir tahun lalu sebutan sungai terkotor, terjorok dan paling tercemar di dunia untuk sungai Citarum sangatlah menyakitkan, sebuah predikat paling buruk dalam sejarah lingkungan di Indonesia. Hal ini seiring dengan perkembangan kehidupan dan maraknya era industrialisasi yang ditopang oleh kemajuan teknologi, maka peradaban di sepanjang sungai Citarum juga menjadi berubah bukan hanya sisi positif, tetapi juga sisi negatifnya.  Dalam dua dasawarsa terakhir, disinyalir lebih dari 2700 industri berdiri di sepanjang DAS Citarum dengan berbagai proses industri dan pengolahan di dalamnya dan tentunya menghasilkan limbah yang tidak sedikit.  Tak kurang dari 2.800 ton tiap harinya. Celakanya dari jumlah tersebut disinyalir baru 47% industri yang melakukan pengolahan limbah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan sisanya 53% industri masih membuang limbah langsung ke aliran sungai Citarum.

Demikian juga dari sektor limbah pertanian, perikanan dan peternakan bahkan limbah rumah tangga masih banyak yang dialirkan langsung ke sungai Citarum.  Bukan hanya dari sisa pupuk dan pestisida pertanian atau limbah kotoran ternak dan pakannya, tetapi juga sampah domestik dan aktivitas kegiatan perdagangan seperti limbah pasar dan pusat-pusat perdagangan.  Hal ini tentunya menambah runyam masalah pencemaran di sepanjang sungai Citarum.

Sungai Citarum memang berjasa dalam pengembangan pertanian seluas 420.000 hektar baik melalui sawah beririgasi teknis maupun kebun-kebun hortikultura disepanjang DAS Citarum, namun mengingat sebagian besar wilayah DAS Citarum merupakan lahan yang bergelombang hingga berbukit, maka dampak erosi-pun tak dapat dihindari, apalagi wilayah ini dikenal dengan wilayah dengan curah hujan yang tinggi dan kondisi tanah yang subur dan beragam tekstur tanah yang menyebabkan tingkat erosi semakin tinggi.  Oleh karena itu langkah konservasi tanah, air dan lingkungan diperlukan agar dampak negatif dapat diminimalisir.

Tingkat pencemaran di aliran sungai Citarum saat ini sudah cukup mengkhawatirkan, bukan hanya indikator fisik dan kimia saja tapi juga indikator bakteriologis yang melampaui ambang batas aman akan air bersih. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena aliran Citarum ini memasok air baku untuk diolah menjadi air minum bagi 80% penduduk Jakarta dan wilayah sekitarnya seperti Bekasi, Karawang, Subang, Purwakarta, Bandung bahkan hingga ke Banten.

Citarum Harum Berkelanjutan

Melihat kondisi pencemaran di atas maka pemerintah tak dapat tinggal diam dengan kondisi tersebut.  Berbagai kebijakan dan program dilakukan untuk mencegah tingginya pencemaran di sepanjang sungai Citarum yang sangat menguasai hajat hidup orang banyak.  Pemerintah provinsi Jawa Barat pernah melaksanakan program Citarum Bestari (Bersih Sehat Indan dan Lestari) melalui Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 75 Tahun 2015 dengan target air sungai Citarum dapat dikonsumsi untuk air minum pada tahun 2018. Danapun digelontorkan tak kurang dari 80 Miliar Rupiah untuk mensukseskan Citarum Bestari.  Namun hingga awal tahun 2018 program ini meskipun masuk prioritas pembangunan Jawa Barat tetapi masih meleset juga.  Hingga kahirnya pemerintah pusat mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 15 tahun 2018 tanggal 15 Maret 2018 yang berisi tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum.

Dengan terbitnya Perpres ini diharapkan akan terjadi akselerasi pengendalian pencemaran dan kerusakan di DAS Citarum dengan target 7 tahun pelaksanaan program tersebut.  Kegiatan ini tentunya harus dilakukan secara komprehensif, terpadu dari tingkat lokal, regional hingga ke tingkat nasional.  Tak tanggung-tanggung Program ini langsung dikomando oleh Menteri Koordinator Kemaritiman yang juga seorang Jenderal dan tentunya melibatkan jajaran pemerintahan daerah, provinsi dan yang terbaru adalah keterlibatan militer dan kepolisian serta kejaksaan.  Hal ini mengingat banyak wilayah hukum yang sangat kompleks dan rumit.

Solusi dan Rekomendasi

Apapun programnya tanpa dukungan masyarakat sekitar dan sinergi yang berkelanjutan maka dapat dipastikan akan terjadi kegagalan.  Oleh karena itu diperlukan upaya ekstra keras untuk mengembalikan kesadaran masyarakat, dinas terkait, pelaku usaha industri dan aparat pemerintah untuk mengembalikan Citarum Harum Berkelanjutan.  Mengembalikan kejayaan Citarum tak semudah membalik tangan, oleh karena itu beberapa langkah yang bisa dijadikan alternatif menuju Citarum Harum Berkelanjutan diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Menanamkan nilai-nilai budaya tinggi untuk menjaga kelestarian sungai sejak dini baik melalui pendidikan formal, informal maupun non formal. Menilik nilai religius masyarakat Jawa Barat maka dapat dikatakan bahwa menjaga kelestarian sungai Citarum adalah jihad lingkungan untuk mengembalikan kejayaan peradaban manusia yang berbudaya, makmur, sejahtera berwawasan lingkungan berkelanjutan dan lestari.
  2. Mengembalikan kegiatan gotong royong lingkungan yang sejak jaman nenek moyang diajarkan sebagai kearifan lokal. Konon dahulu kala setiap wilayah itu ada penanggung jawab wilayahnya dan kelompok gotong royong lingkungan, kini budaya yang arif itu layak dikembalikan dan digalakkan kembali sebagai langkah jihad lingkungan.
  3. Program kerja nyata yang diinisiasi oleh satuan komando militer setempat untuk melaksanakan kegiatan Citarum bersih di seluruh lini masyarakat secara komprehensif dan berkelanjutan. Setiap satuan komando saling terintegrasi dengan kegiatan dinas lingkungan hidup terkait, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat secara terpadu.  Pendek kata semua bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas di sekitarnya masing-masing.
  4. Investigasi kewajiban pembangunan IPAL bagi industri (Besar dan sedang) sekitar aliran sungai citarum. Demikian juga untuk sektor industri kecil dan menengah (UMKM) dapat dibina dan difasilitasi melalui pembuatan IPAL komunal secara bersama-sama dengan bimbingan tim satgas dan akademisi yang telah ditunjuk
  5. Melibatkan akademisi khususnya para mahasiswa-mahasiswa yang berafiliasi dengan ilmu lingkungan untuk melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) tematik lingkungan dengan prioritas mengembalikan kelestarian sungai citarum yang bersih, sehat, aman dan lestari berdasarkan kaidah-kaidah ilmu lingkungan secara baik dan benar. Demikian juga diperlukan penelitian dan pengembangan (litbang) Citarum harum oleh para akademisi liuntas sektor dan lintas ilmu untuk menentukan formula yang tepat menuju Citarum Harum berkelanjutan.
  6. Meningkatkan kebersihan dan kesehatan lingkungan ekosistem sepanjang sungai Citarum secara terpadu
  7. Melibatkan kegiatan ostumer Social Responsbility (CSR) baik dari BUMN, BUMD maupun swasta dengan kegiatan yang berorientasi lingkungan dari program penghijauan, pengolahan limbah, sanitasi lingkungan, serta tindakan konservasi tanah, air dan lingkungan
  8. Menerapkan hukum secara tegas dan berkeadilan bagi siapapun pelanggar dan perusak lingkungan. Hal ini akan menjadikan efek jera dan langkah kepastian menjaga lingkungan agar alam dan lingkungan sungai Citarum terjaga baik.
  9. Menciptakan sekolah-sekolah sungai terpadu dengan kegiatan-kegiatan usaha masyarakat sekitar, sehingga sekolah sungai ini selain menghasilkan pejuang-pejuang lingkungan yang berhasil juga menumbuhkan jiwa wirausaha berwawasan lingkungan.
  10. Insentif beasiswa dan reward lingkungan bagi masuarakat sekitar lingkungan, pegiat lingkungan, akademisi atau tokoh masyarakat berprestasi dalam bidang lingkungan.
  11. Langkah pemberian insentif dan reward bagi para pegiat-pegiat lingkungan serta para inovatorlingkungan yang dinilai berjasa bagi lingkungan khususnys sungai Citarum dan sekitarnya.
  12. Peningkatan festival budaya Citarum melalui even resmi yang dikombinasikan dengan kegiatan keolahragaan, rekreasi dan pariwisata. Even ini dapat dimasukkan dalam kalender pariwisata nasional sebagai festival tahunan bahkan dapat dikembangkan menjadi even internasional.
  13. Kegiatan-kegiatan keagamaan dan soaial berkenaan dengan budaya bersih sungai Citarum sebagai wujud kepedulian sosial dan kejayaan maritim Indonesia.
  14. Kegiatan-kegiatan lain yang berorientasi lingkungan berkelanjutan.

 

Akhirnya semua langkah dan kebijakan yang diambil dan dilaksanakan oleh seluruh stakeholder di sepanjang sungai Citarum dan sekitarnya kembali kepada kearifan lokal individu, aparat pemerintah, lingkungan dan segenap masyarakat yang terlibat.  Manusia yang berbudaya tinggi adalah manusia yang menghargai kebersihan, keindahan, kesehatan dan kelestarian lingkungan sungai.  Keterpaduan program, kesungguhan pelaksanaan program, keteladana pemimpin dan ulama serta penegakan hukum secara tegas dan berkeadilan juga akan menjadi faktor pendukung berhasilnya program Citarum Harum. Tentunya dengan niat dan itikad baik seluruh masyarakat diharapkan dapat tercipta lingkungan sungai Citarum Harum Berkelanjutan.  Jayalah peradaban sungai Citarum, Jayalah Lingkungan, Jayalah maritim Indonesia.  Semoga! (msholeh10@gmail.com).

 

*)    Artikel dibuat untuk kompetisi writingthondikti 2018

**)   Mahasiswa Pasca Sarjana Prodi Ilmu Lingkungan UNS Surakarta

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *